Rabu, 23 Mei 2012

Anak Ojeg Payung


Hari itu, saya menjadi salah satu panitia dalam acara pameran beasiswa, kebetulan saya mendapat bagian menjadi LO dari perwakilan salah satu organisasi yang memberi info tentang beasiswa.Hari itu sebenarnya cerah, tapi sialnya pada sore hari mendadak hujan lebat.Saat perwakilan ini hendak pulang, kami tidak memiliki payung untuk mengantar yang bersangkutan ke kendaraannya. Kemudian seniorku, teh weni mencari payung dan hasilnya tak jauh dari kami terlihat seorang anak laki-laki berlari-lari membawa payung."Ojeg payung, teh?" tanyanya.Akhirnya kami pun memakai jasa anak tersebut. saya dan perwakilan itu di bawah payung dan anak itu hujan-hujanan mengikuti kami dibelakang. setelah mengantar perwakilan ini, banyak pertanyaan yang terlintas di benak saya tentang anak ini."Sini di bawah payung sama, teteh." kataku.Ia tak menjawab, hanya beranjak ke bawah payung dan mengikutiku kembali ke tempat acara. Dalam perjalanan itu terjadilah percakapan singkat anatara aku dan ojeg payung itu."Kamu sekolah?" Tanyaku"Iya." "Kelas berapa?""5 SD""Nilai rapornya kemaren bagus nggak?""Lumayan, ga ada yang merah, teh." Jawabnya."Wah, pintar ya. Kalo udah besar jadi apa?""Jadi pemain sepak bola, teh." Katanya sambil tersenyum."Kamu harus jadi pemain sepak bola yang hebat ya. bukan cuma hebat main sepak bola, tapi otaknya juga harus hebat. janji ya sama, teteh." "Iya, teh.""Terus, kamu harus berhasil dibanding temen kamu yang lain. kamu kan cari uang jajan sendiri, jadi dibanding teman-teman kamu yang masih minta uang sama orang tua mereka, kamu harus lebih maju. jangan sampai ini menjadi faktor kamu diam di tempat. kamu harus tetap belajar dan jadi orang sukses." Kataku sambil mengacak rambutnya. Ia tersenyum.Tak terasa kami telah kembali ke tempat acara, disana sudah ada teh weni."Oh iya, nama kamu siapa?" Tanyaku pada anak ojeg payung itu."Ilman, teh.""Teh weni, kenalin. Ini calon  pemain sepak bola. Namanya ilman." Kataku memperkenalkan ilman pada teh weni.Ilman berlalu setelah kami membayar jasa ojeg payungnya. Ada rasa iba melihat anak itu berlari-lari menawarkan ojeg payungnya sambil hujan-hujanan.Semoga dia bisa menjadi pemain sepak bola seperti yang dicita-citakannya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar