Jumat, 03 Agustus 2012

Mama, aku ingin sekolah



Siang itu lumayan panas, jam menunjukkan pukul  13.18 WIB. Aku berdiri menunggu lampu merah di persimpangan.  Seorang gadis kecil berlari-lari ke arahku, telanjang kaki. Kutaksir umurnya baru 7 atau 8 tahun.
“Teteh, bunganya?” katanya sambil menyodorkan beberapa rangkaian bunga mawar yang ada di tangannya.
Ngga.” Jawabku sambil berjalan melalui zebracross.
“Bunganya, teh.” Ia masih membujukku. Mengikutiku hingga sampai di tengah.
Aku memberikan lima jari (baca: menolak) kepadanya lalu kembali berjalan menuju pangkalan bus kota. Hawa panas terik itu masih terasa di dalam bus, aku memilih duduk di dekat jendela dan membukanya lebar-lebar. Penumpang masih sedikit. Di depanku ada seorang ibu duduk bersama anak kecil. “Mama, aku ingin sekolah.” Katanya dengan sedikit merengek.
“Iya, nanti kalau umur adek sudah cukup ya.” Kata ibunya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya. Anak yang bersemangat, ibu yang baik. Semoga ia bersemangat juga nantinya ketika memasuki sekolah. Tak lama kemudian bis mulai melaju, melewati persimpangan tadi. Aku melihat anak yang menyodorkan bunga tadi dari jendela. Ia masih disana, berteduh lalu berlari-lari ke mobil-mobil menyodorkan bunga. Ia bersemangat. Semoga saja ia juga bersemangat di sekolahnya belajar, batinku.
Aku menikmati perjalanan ke Pasar Baru, sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Jalan kesana macet sekali terutama di dekat lampu merah lalu di daerah Pasar Baru sendiri juga macet. Pengamen naik turun mengikuti bus, lalu ada pengamen cilik bersama seorang laki-laki belia memberi hiburan dalam tengahnya macet. Anak itu bernyanyi sambil bertepuk tangan sedangkan si laki-laki tadi memainkan gitar. Suaranya cempreng, tapi ekspresinya menyanyikan lagu itu tampak sangat bersungguh-sungguh. Semoga ia juga bersungguh-sungguh dalam belajarnya, kataku dalam hati.
Macet di daerah Pasar Baru lumayan parah. Sehingga aku turun saja dan berjalan kaki sambil melihat toko-toko yang kulewati. Sesak sekali rasanya, bukan hanya mobil yang macet, pejalan kaki juga macet. Dalam suasana berdesak-desakkan itu terdengar seorang ibu berteriak, “Copet! Copet!” serentak orang-orang menoleh keasal suara itu, kemudian adegan itu diikuti dengan seorang anak laki-laki berlari kearah jalan, si ibu mengejarnya bersama beberapa orang laki-laki.
“Anak itu berbakat menjadi pelari.” Celetukku, dan ternyata di dengar oleh bapak-bapak penjual jilbab yang berdiri di sebelahku.
“Kalau dididik yang benar bisa, neng. Tapi kalau didikannya salah ya kayak gitu jadinya.” Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kata-kata “didik” itu selalu menjadi sesuatu yang dipermasalahkan saat anak berkelakuan buruk. Masih teringat saat tetanggaku bertengkar karena anak mereka bolos sekolah seminggu. “Kamu sih,buk. Ngedidik anak itu yang bener. Jangan diikutin maunya apa. Manja kan jadinya. Lihat itu sekarang, dia yang salah bukannya minta maaf malah mengurung diri di kamar. Hasil didikan kamu itu.” Teriak suaminya dan sang istri tak mau kalah, “Lho, kok malah nyalahin ibuk, bapak itu yang tidak pernah memberi perhatian sama dia, tidak pernah mendidik dia dengan benar. Selalu dikasih, uang, uang, uang. Memangnya anak tidak butuh perhatian.” Suara itu diikuti piring pecah dan suara gonggongan anjing peliharaan mereka.
Aku berjalan kembali, melihat ke sekitar. Anak yang menjual bunga, anak yang mengamen, anak pelari, lalu anak yang tengah menawarkan tas belanjaan ke seorang ibu-ibu apa mereka sudah mendapat didikan yang benar? Apa mereka bersekolah? Apa mereka belajar? Aku kemudian menghampiri anak yang menyodorkan tas belanjaan ke ibu-ibu di depanku, ia beralih kepadaku.
“Tasnya, teh. Dua puluh lima ribu satunya.” Aku hanya mengangguk.
“Umur kamu berapa?” tanyaku sambil memilih-milih tas.
“Sebelas tahun, teh.” Katanya memegangi tas yang tengah kupilih.
“Sekolah?” tanyaku lagi, tapi kali ini melihat kearahnya.
“Ga teh, mahal. Cuma buang uang. Mending kayak gini bantuin bapak.” Aku tersentak mendengarnya. Anak sekecil ini sudah memikirkan untuk membantu bapaknya. Benar-benar terenyuh.
“tapi kalau sudah besar, sudah tamat sekolah, kan bisa bantu bapak. Uangnya juga lebih banyak.” Kataku kembali memilih tas, sengaja untuk memperlama waktu bicara.
“Butuhnya sekarang, teh. Kalau saya sekolah, adik-adik saya mau makan apa?” Lagi-lagi aku terenyuh mendengar kata-katanya.
 “Dulu saya pernah nonton TV, acara cerdas cermat. Ada pertanyaan tentang peraturan kalau orang miskin kayak saya dipelihara negara. Tapi kalau dipelihara itu bukannya dikasih makan juga ya, teh? Disayang gitu. Kok saya nggak, ya?” Oh, Pasal 34 UUD 1945 rupanya. Aku tak bisa berkata-kata mendengarnya. Mahal, buang uang, bantu bapak, untuk adik-adik. Ya Tuhan, ternyata bukan anak-anak di daerah terpencil saja yang susah untuk sekolah. Mereka yang hidup di kota besar juga susah karena himpitan ekonomi.
“Kalau ada sekolah gratis, mau belajar?” tanyaku lagi.
“Ini kan kalau teh, ya mau lah. Memangnya ada teh? Buku sama alat tulisnya dikasih juga cuma-cuma ya.” Aku hanya tersenyum. Anak ini mau belajar. Aku memberikan uang tiga puluh ribu, “Untuk adik-adik.” Kataku saat menolak kembalian yang ia berikan. Ia tersenyum, “Terimakasih, teh.”
Aku berlalu, dan pulang. Rasanya tidak ingin menghabiskan uang saku untuk membeli barang-barang yang tidak jelas. Teringat anak tadi.
Esoknya, diatas angkot aku mendengar seorang gadis kecil merengek ke ibunya, “Mak, aku mau sekolah.” Katanya, aku tersenyum mendengarnya.
“Nanti kalau sudah ada uang.” Kata ibunya. Aku terkejut mendengarnya, pertanyaan yang sama, tapi jawaban yang berbeda. Lagi-lagi ekonomi. Setelah ku perhatikan, itu anak penjual bunga kemarin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar