Siang
itu lumayan panas, jam menunjukkan pukul
13.18 WIB. Aku berdiri menunggu lampu merah di persimpangan. Seorang gadis kecil berlari-lari ke arahku,
telanjang kaki. Kutaksir umurnya baru 7 atau 8 tahun.
“Teteh,
bunganya?” katanya sambil menyodorkan beberapa rangkaian bunga mawar yang ada
di tangannya.
“Ngga.” Jawabku sambil berjalan melalui zebracross.
“Bunganya,
teh.” Ia masih membujukku. Mengikutiku hingga sampai di tengah.
Aku
memberikan lima jari (baca: menolak) kepadanya lalu kembali berjalan menuju
pangkalan bus kota. Hawa panas terik itu masih terasa di dalam bus, aku memilih
duduk di dekat jendela dan membukanya lebar-lebar. Penumpang masih sedikit. Di
depanku ada seorang ibu duduk bersama anak kecil. “Mama, aku ingin sekolah.”
Katanya dengan sedikit merengek.
“Iya,
nanti kalau umur adek sudah cukup ya.” Kata ibunya.
Aku
hanya tersenyum mendengarnya. Anak yang bersemangat, ibu yang baik. Semoga ia
bersemangat juga nantinya ketika memasuki sekolah. Tak lama kemudian bis mulai
melaju, melewati persimpangan tadi. Aku melihat anak yang menyodorkan bunga
tadi dari jendela. Ia masih disana, berteduh lalu berlari-lari ke mobil-mobil
menyodorkan bunga. Ia bersemangat. Semoga saja ia juga bersemangat di
sekolahnya belajar, batinku.
Aku
menikmati perjalanan ke Pasar Baru, sebuah pusat perbelanjaan di kotaku. Jalan
kesana macet sekali terutama di dekat lampu merah lalu di daerah Pasar Baru
sendiri juga macet. Pengamen naik turun mengikuti bus, lalu ada pengamen cilik
bersama seorang laki-laki belia memberi hiburan dalam tengahnya macet. Anak itu
bernyanyi sambil bertepuk tangan sedangkan si laki-laki tadi memainkan gitar.
Suaranya cempreng, tapi ekspresinya menyanyikan lagu itu tampak sangat
bersungguh-sungguh. Semoga ia juga bersungguh-sungguh dalam belajarnya, kataku
dalam hati.
Macet
di daerah Pasar Baru lumayan parah. Sehingga aku turun saja dan berjalan kaki
sambil melihat toko-toko yang kulewati. Sesak sekali rasanya, bukan hanya mobil
yang macet, pejalan kaki juga macet. Dalam suasana berdesak-desakkan itu
terdengar seorang ibu berteriak, “Copet! Copet!” serentak orang-orang menoleh
keasal suara itu, kemudian adegan itu diikuti dengan seorang anak laki-laki
berlari kearah jalan, si ibu mengejarnya bersama beberapa orang laki-laki.
“Anak
itu berbakat menjadi pelari.” Celetukku, dan ternyata di dengar oleh bapak-bapak
penjual jilbab yang berdiri di sebelahku.
“Kalau
dididik yang benar bisa, neng. Tapi kalau didikannya salah ya kayak gitu
jadinya.” Aku hanya tersenyum mendengarnya. Kata-kata “didik” itu selalu
menjadi sesuatu yang dipermasalahkan saat anak berkelakuan buruk. Masih
teringat saat tetanggaku bertengkar karena anak mereka bolos sekolah seminggu.
“Kamu sih,buk. Ngedidik anak itu yang bener. Jangan diikutin maunya apa. Manja
kan jadinya. Lihat itu sekarang, dia yang salah bukannya minta maaf malah
mengurung diri di kamar. Hasil didikan kamu itu.” Teriak suaminya dan sang
istri tak mau kalah, “Lho, kok malah nyalahin ibuk, bapak itu yang tidak pernah
memberi perhatian sama dia, tidak pernah mendidik dia dengan benar. Selalu
dikasih, uang, uang, uang. Memangnya anak tidak butuh perhatian.” Suara itu
diikuti piring pecah dan suara gonggongan anjing peliharaan mereka.
Aku
berjalan kembali, melihat ke sekitar. Anak yang menjual bunga, anak yang
mengamen, anak pelari, lalu anak yang tengah menawarkan tas belanjaan ke
seorang ibu-ibu apa mereka sudah mendapat didikan yang benar? Apa mereka
bersekolah? Apa mereka belajar? Aku kemudian menghampiri anak yang menyodorkan
tas belanjaan ke ibu-ibu di depanku, ia beralih kepadaku.
“Tasnya,
teh. Dua puluh lima ribu satunya.” Aku hanya mengangguk.
“Umur
kamu berapa?” tanyaku sambil memilih-milih tas.
“Sebelas
tahun, teh.” Katanya memegangi tas yang tengah kupilih.
“Sekolah?”
tanyaku lagi, tapi kali ini melihat kearahnya.
“Ga
teh, mahal. Cuma buang uang. Mending kayak gini bantuin bapak.” Aku tersentak
mendengarnya. Anak sekecil ini sudah memikirkan untuk membantu bapaknya.
Benar-benar terenyuh.
“tapi
kalau sudah besar, sudah tamat sekolah, kan bisa bantu bapak. Uangnya juga
lebih banyak.” Kataku kembali memilih tas, sengaja untuk memperlama waktu
bicara.
“Butuhnya
sekarang, teh. Kalau saya sekolah, adik-adik saya mau makan apa?” Lagi-lagi aku
terenyuh mendengar kata-katanya.
“Dulu saya pernah nonton TV, acara cerdas
cermat. Ada pertanyaan tentang peraturan kalau orang miskin kayak saya
dipelihara negara. Tapi kalau dipelihara itu bukannya dikasih makan juga ya,
teh? Disayang gitu. Kok saya nggak, ya?” Oh, Pasal 34 UUD 1945 rupanya. Aku tak
bisa berkata-kata mendengarnya. Mahal, buang uang, bantu bapak, untuk
adik-adik. Ya Tuhan, ternyata bukan anak-anak di daerah terpencil saja yang
susah untuk sekolah. Mereka yang hidup di kota besar juga susah karena himpitan
ekonomi.
“Kalau
ada sekolah gratis, mau belajar?” tanyaku lagi.
“Ini
kan kalau teh, ya mau lah. Memangnya ada teh? Buku sama alat tulisnya dikasih
juga cuma-cuma ya.” Aku hanya tersenyum. Anak ini mau belajar. Aku memberikan
uang tiga puluh ribu, “Untuk adik-adik.” Kataku saat menolak kembalian yang ia
berikan. Ia tersenyum, “Terimakasih, teh.”
Aku
berlalu, dan pulang. Rasanya tidak ingin menghabiskan uang saku untuk membeli
barang-barang yang tidak jelas. Teringat anak tadi.
Esoknya,
diatas angkot aku mendengar seorang gadis kecil merengek ke ibunya, “Mak, aku
mau sekolah.” Katanya, aku tersenyum mendengarnya.
“Nanti
kalau sudah ada uang.” Kata ibunya. Aku terkejut mendengarnya, pertanyaan yang
sama, tapi jawaban yang berbeda. Lagi-lagi ekonomi. Setelah ku perhatikan, itu
anak penjual bunga kemarin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar